Blog ini dibuat untuk memberikan informasi mengenai seni, budaya, teknologi, serta destinasi wisata

  • Budaya

    Halaman ini memuat tentang kebudayaan

  • Seni Musik

    Halaman ini memuat tentang seni musik

  • Seni Tari

    Halaman ini memuat tentang seni tari

  • Teknologi

    Halaman ini memuat informasi teknologi (IT)

  • Destinasi Wisata

    Halaman ini memuat tentang pariwisata

Featured post

Pura Luhur dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

Pura dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa       Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini menj...

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Friday, 23 November 2018

Pura Luhur dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

Pura dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

 
    Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini menjadi rancu dengan kata sangguhu yang berarti sang guru atau sang guhung (sebutan ini tidak terlepas dari peranan leluhur bhujangga waisnawa yang menjadi pembimbing atau guru spiritual). demikan juga halnya dengan kata sengguan/sengguhan yang dapat berarti tempatnya i senggu/ i sengguh, dan kata sangguhuan yang artinya karang setra/suci. hal ini tidak terlepas dari tempat tinggal Ida Bhujangga Waisnawa yang selalu berdekatan dengan karang tenget atau karang setra karena sang Bhujangga mempunyai kemampuan sebagai pamahayu jagat, pangalebur lan panglukat sahananing leteh (melebur dang menyucikan segala kekotoran.
Penyebutan kata senggu atau sengguh berasal dari kisah pada jaman Dalem Waturenggong di klungkung. Pada zaman pemerintahan dalem Waturenggong, salah satu purohita beliau dari Bhujangga Waisnawa adalah Ida Bhujangga Guru. Selain sebagai purohita, Ida bhujangga juga berperan sebagai Guru bagi putra-putri sang raja.
Salah satu putri dari dalem waturenggong bernama Dewa Ayu laksmi ketika beranjak dewasa akhirnya jatuh cinta dan menikah dengan Ida Bhujangga Guru. Hal ini mengundang kemarahan dari Dalem Waturenggong, karena pernikahan terjadi diluar sepengetahuan beliau dan apalagi pernikahan tersebut terjadi antara guru dan murid. Kemarahanan dalem ditunjukkan dengan perintah untuk membunuh Ida Bhujangga Guru mengetahui hal tersebut Ida Bhujangga Guru segera "kesah" atau melarikan diri ke daerah pegunungan di tabanan (jatiluwih) tempat tinggal ayahnya yaitu Ida bhujangga Angker atau Ida Resi Canggu. Kepergian Ida Bhujangga Guru dari gelgel (klungkung) masih meninggalkan putra beliau dari istri pertama. Putra beliau bernama Ida Bhujangga Alit Adiharsa.
Suatu ketika, Dalem waturenggong mengadakan upacara yadnya. Beliau mendengar tentang keberadaan Danghyang Nirartha yang baru datang dari jawa. Namun ketika Danghyang Nirartha dipendak atau dijemput, Danghyang Nirartha sedang tidak berada di pasraman, yang ada saat itu adalah I Kelik yang merupakan salah satu pengikut Danghyang Nirartha. I Kelik ini mengaku sebagai Danghyang Nirartha, maka diajaklah dia ke istana. Lalu ketika I kelik yang dikira danghyang nirartha ini melantunkan puja selayaknya pandita, datanglah Danghyang Nirartha dan Ida Bhujangga Alit Adiharsa. mengetahui hal ini membuat I Kelik menjadi ketakutan dan melarikan diri. Dalem menjadi marah karena merasa dibohongi, lalu diperintahkan untuk mengejar dan menangkap I Kelik yang telah membohongi raja. Akan tetapi atas permintaan Danghyang Nirartha, I Kelik akhirnya diampuni oleh dalem. I Kelik kemudian disebut I Sengguh yang artinya yang dikira.
Dalam perkembangan selanjutnya di Istana, oleh karena kemarahan Dalem Waturenggong terhadap Ida Bhujangga Guru, Ida bhujangga Alit Adiharsa menjadi tidak dianggap. Segala nasehat dari Ida bhujangga tidak pernah diperhatikan. Ida Bhujangga Alit merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih untuk ikut kesah dari gelgel. Dengan perginya sang Bhujangga maka dikatakan bahwa Ida Bhujangga telah moksah (padahal kesah yang artinya pergi)lama-kelamaan kondisi negara semakin kacau karena purohita yang bertugas sebagai pemarisudha gumi atau pemahayu jagat sudah tidak ada.
Hal ini membuat Ida dalem menjadi resah. Atas saran Danghyang Nirartha, Dalem akhirnya setuju untuk mengangkat I Kelik sebagai pengganti Ida Bhujangga. I Kelik kemudian dijari oleh Danghyang Nirartha puja-puja weda sebagai dang katrini dan juga semua pusaka dan piagem-piagem sang Bhujangga yang telah kesah diberikan kepada I Kelik. Selanjutnya I Kelik ditapak (ditasbihkan) oleh Danghyang Nirartha sebagai Jero Gede (menurut Lontar Tutur kudalini).
Maka sejak itu peranan Ida Bhujangga diambil alih oleh Jero Gede (senggu). dan berita yang beredar bahwa Ida Bhujangga telah moksah, sudah tidak ada lagi preti sentananya. Padahal sebenarnya Ida bhujangga hanya pergi dari klungkung (pusat kerajaan bali pada waktu itu).

    Sudah jelaslah perbedaan antara Bhujangga waisnawa dan senggu. Bhujangga waisnawa merupakan keturunan dari Ida Resi Makandeya dan sudah ada berabad-abad di bali jauh sebelum kedatangan majapahit ke Bali. Sementara senggu ada sejak pemerintahan Dalem Waturenggong, yaitu zaman setelah kedatangan Majapahit ke Bali. Ida Resi Bhujangga "ditapak" oleh Ida Resi Nabe Bhujangga Waisnawa, sementara Jero Gede "ditapak" oleh Ida Nabe Siwa.
Setelah kejadian di Gelgel tersebut maka peranan bhujangga waisnawa terpinggirkan ditambah lagi setelah Danghyang Nirartha atas restu Dalem Waturenggong, merestrukturisasi kehidupan masyartakat dengan mengeluarkan sistem kasta. dimana yang disebut golongan Brahmana adalah Danghyang Nirartha beserta keturunannya dan Danghyang Astapaka (saudara danghyang nirartha) beserta turunannya. Ksatria adalah Raja dan keluarganya, Arya adalah para patih dan punggawa kerajaan dan diluar ketiga golongan itu adalah Sudra.
Demikianlah cerita tentang Bhujangga Waisnawa dan Senggu, semoga bermanfaat. Tulisan ini bukan bertujuan untuk mendiskreditkan dan mejelekkan golongan tertentu. Melainkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan saja khususnya untuk para semeton bhujangga waisnawa. marilah para semeton bhujangga waisnawa tetap teguh memegang sasana ke bhujanggaan, yaitu untuk selalu arif dan bijaksana namun rendah hati. Bu artinya Bumi/pertiwi, Ja artinya air suci, Ngga artinya nagasari, sarining sekar anyuksemaning tirta jati utama maka perihaning wong kabeh (lontar kerta bhujangga). Bhujangga adalah air atau tirta suci yang dapat membersihkan bumi dan segala isinya atau dengan kata lain adalah sebagai pengayom.


Pura Luhur Bhujangga Waisnawa 





Pura Luhur Bhujangga Waisnawa merupakan tempat suci sebagai media pemujaan Bhatara Kawitan (Leluhur) dari Wangsa Bhujangga Waisnawa. Pura Luhur Bhujangga Waisnawa ini di samping sebagai Pura Kawitan sangat diyakini di masa lampau sebagai suatu pasraman. Di tempat ini dipuja roh suci leluhur atau Dewa Pitara dari Wangsa Bhujangga Waisnawa dan tentunya juga sebagai media pemujaan pada Tuhan dalam berbagai manifestasinya.
Menurut catatan sejarah, dinyatakan bangunan suci ini didirikan oleh Ida Bagus Angker yang setelah dwijati bergelar Ida Bhagawan Resi Canggu. Ida Bagus Angker ini juga sebagai pendiri Pura Petali yang berada di areal lebih di bawah dari Pura Luhur Bhujangga Waisnawa. Ida Bagus Angker mendirikan Pura Luhur Bhujanga Waisnawa dan Pura Petali di Desa Jatiluwih ini pada zaman pemerintahan di Bali dipimpin oleh Dalem Watu Renggong dengan ibu kotanya di Klungkung. Dalem Watu Renggong memerintah di Bali dari tahun 1460-1550 Masehi.
Pura Luhur Bujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. Tempat ini dapat dijadikan salah satu tujuan wisata anda saat berkunjung dan berwisata di Pulau Bali. Arsitektur menawan serta keindahan ukiran-ukiran yang terukir di bangunan pura akan menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi anda yang berkunjung ke objek wisata pura ini. Letak dari objek wisata ini juga berdekatan dengan beberapa objek wisata, diantaranya yaitu objek wisata Jatiluwih, Pura Luhur Petali, Air Panas Belulang dan Bali Butterfly Park. Di pura luhur bhujangga ini juga terdapat 2 Beji, yaitu Beji Kauh dan Beji Kangin



Beji Kauh 

Beji Kauh berada di sebelah barat saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa.
Para pemedek yang tangkil biasanya melakukan penglukatan di beji kauh dan beji kangin. Beji Kauh terdapat sumber mata air yang mengalir dan berasal dari gunung batukaru.


Beji Kangin

Beji Kangin berada di sebelah timur saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa
Beji kangin terdapat kolam yang diatasnya ditumbuhi lumut dan kapu-kapu.




















Share:

Thursday, 22 November 2018

MELIK ( Anugerah yang harus dijaga dengan baik)




Kita semua terlahir kembali sebagai manusia dengan membawa energi kita sendiri masing-masing. Diantaranya adalah energi kesadaran, energi kesiddhian, energi karma, energi kebiasaan, energi kecenderungan pikiran, dsb-nya.
Salah satu istilah untuk menunjuk pada energi kelahiran kita di Bali disebut "melik". Sebab dari kelahiran orang yang melik, sebenarnya disebabkan karena energi kesiddhian dan energi karma kita sendiri yang kita bawa dari kehidupan sebelumnya. Yaitu, umumnya orang melik, di kehidupan mereka sebelumnya melakukan praktek spiritual tertentu yang ada kaitannya dengan kesiddhian [kesaktian]. Praktek spiritual tersebut menghasilkan kekuatan energi tertentu, yang ikut terbawa sebagai energi kesiddhian dan energi karma ke dalam kelahiran sekarang. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada orang melik.

Rerajahan yang terdapat pada orang melik biasanya terdapat di telapak tangan, dijidat atau di bagian tubuh tertentu selain itu juga bisa terdapat tanda senjata terkadang terdapat salah satu dari sembilan senjata pengider bhuwana tergantung tugas yang diemban sang anak lahir ke dunia, dengan rerajahan senjata para dewa seperti:
  • Bajra
  • Gada
  • Nagapasa
  • Cakra
  • Dupa
  • Angkus
  • Trisula
  • Moksala,
  • Api dan Angin
Pertanda orang melik berbeda-beda tergantung bagaimana di kehidupan sebelumnya. Yaitu memiliki salah satu atau beberapa dari 12 [dua belas] pertanda melik sebagai berikut ini :

I. Secara alami memiliki salah satu atau beberapa pertanda spiritual sebagai berikut


 [MELIK ADNYANA] :
  • Secara alami [tanpa melakukan praktek spiritual apapun] memiliki kepekaan tentang energi, misalnya dapat mendeteksi energi seseorang, atau dapat mendeteksi energi suatu tempat, dsb-nya, sebagai pertanda bahwa di kehidupan sebelumnya sudah mencapai tingkatan jnana kepekaan terhadap energi.
  • Secara alami [tanpa melakukan praktek spiritual apapun] bisa mendengarkan suara-suara dari alam niskala [alam tidak kelihatan], sebagai pertanda bahwa di kehidupan sebelumnya sudah mencapai tingkatan jnana mendengar alam niskala.
  • Secara alami [tanpa melakukan praktek spiritual apapun] bisa melihat kehadiran hantu atau mahluk-mahluk halus lainnya, sebagai pertanda bahwa di kehidupan sebelumnya sudah mencapai tingkatan jnana mata spiritual [mata ketiga, trineta] terbuka.
  • Seringkali mimpi yang menjadi kenyataan [melihat masa depan melalui mimpi], sebagai pertanda bahwa di kehidupan sebelumnya sudah mencapai tingkatan jnana dapat meramal masa depan.
  • Seringkali mimpi tentang alam-alam suci, atau sering mimpi didatangi para Dewa-Dewi, atau sering mimpi didatangi orang-orang suci, sebagai pertanda bahwa secara niskala dituntun dan dijaga oleh Ista Dewata pelindung, atau oleh Dharmapala.
  • Seringkali mimpi terbang dan telanjang bulat, sebagai pertanda bahwa di kehidupan sebelumnya sudah mencapai tingkatan spiritual yang sangat tinggi dan mendalam.


    II. Memiliki salah satu atau beberapa tanda kelahiran sebagai berikut


    [MELIK CECIREN] :
  • Pada tubuhnya ada tanda kelahiran berbentuk Omkara, atau berbentuk senjata Dewa seperti Bajra, Gada, Nagapasa, Chakra, Trisula, dsb-nya, atau berbentuk unsur panca maha bhuta seperti api, atau berbentuk simbol-simbol spiritual lainnya seperti bunga padma, swastika, dsb-nya.
  • Pada rambut di kepalanya memiliki usehan [user-user] sebanyak 3 [tiga] atau lebih.
  • Pada lidahnya sebagian berwarna hitam [lidahnya poleng atau belang].
  • Pada kemaluannya terdapat tahi lalat.
  • Ketika menginjak usia tertentu, secara alami muncul gimbal [rambut plusut atau dreadlock] pada rambutnya.
  • Pada waktu kelahirannya terlilit oleh tali pusar.
Jika memiliki salah satu atau beberapa dari 12 [dua belas] pertanda tersebut, berarti orang melik. Semakin banyak tandanya, semakin keras meliknya.
Hal utama yang sangat penting dalam kehidupan orang melik adalah kewajiban atau kebersediaan dirinya untuk melanjutkan praktek spiritual dharma-nya dari kehidupan sebelumnya. Terutama karena terdapat suatu kecenderungan, yaitu orang melik cenderung hidupnya akan berjalan dengan banyak hambatan dan rintangan, atau hidupnya kacau dan banyak masalah, atau bahkan kadang-kadang terjadi orang melik akan berumur pendek.
Hal itu disebabkan oleh 2 [dua] faktor. Yaitu sebagai berikut :

  • Karena orang melik di dalam dirinya memiliki kekuatan energi yang jauh lebih besar dari orang kebanyakan. Energi yang besar ini sangat perlu disalurkan atau diekspresikan secara spiritual, karena jika tidak maka orang melik tersebut akan mengalami gangguan emosi, seperti sensitif mudah tersinggung, mudah marah, mudah sedih, mudah lelah, mudah depresi, dsb-nya, atau sering mengalami sakit kepala, atau sering pingsan, dsb-nya. Kadang-kadang akan muncul dalam bentuk kerauhan [kesurupan]. Jika energi yang besar ini tidak disalurkan atau diekspresikan secara spiritual dalam jangka waktu lama, energi ini dapat menjadi liar dan memantul balik, kemudian menimbulkan kekacauan bagi kehidupan orang melik seperti misalnya dia akan sering mengalami kecelakaan, atau sulit mendapat rejeki, atau sulit ketemu jodoh, atau sulit mendapat keturunan, atau tidak disukai orang, atau bercerai dengan pasangan, atau sering kena tipu, dsb-nya, atau kemungkinan lain energi ini dapat merusak tubuhnya sehingga membuat orang melik mengalami sakit yang berat, jenis sakitnya berbeda-beda tergantung masing-masing.
  • Karena orang melik laksana permata kemilau yang menarik perhatian para Dewa-Dewi atau para mahluk alam-alam bawah.
Secara alami orang melik laksana permata bercahaya kemilau yang akan menarik perhatian dari para Dewa-Dewi atau dari para mahluk alam-alam bawah.
Jika orang melik tersebut rajin memurnikan diri [melukat] di pura pathirtan [sumber mata air suci] yang sakral, tekun melakukan sadhana [praktek spiritual] yang tepat, jarang melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, serta punya hati penuh belas kasih, penuh pengertian dan sering melakukan kebaikan-kebaikan, maka orang melik akan menarik perhatian para Dewa-Dewi. Ini merupakan langkah yang aman. Dia akan dinaungi dan dilindungi oleh para Dewa-Dewi. Kalaupun dia ada didatangi mahluk-mahluk bawah mereka datang untuk mencari pertolongan dan bukan untuk mengganggu.

Sebaliknya jika orang melik tersebut jarang memurnikan diri [melukat] di pura pathirtan yang sakral, tidak melakukan sadhana [praktek spiritual] yang tepat, sering melakukan perbuatan dan perkataan yang berdampak menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, punya sifat mementingkan diri sendiri, apalagi sering melakukan kejahatan, maka orang melik akan menarik perhatian dari para mahluk alam-alam bawah. Sehingga kehidupannya akan terganggu. Apalagi jika dia menjalin hubungan dengan "para Dewa-Dewi" [tapi sesungguhnya tipuan mahluk alam-alam bawah yang menyamar] atau bahkan mengikat janji dengan mereka. Ini merupakan langkah yang sangat berbahaya. Dampaknya adalah orang melik seperti ini kelak ketika meninggal akan ditarik ke alam-alam bawah. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, bahkan orang melik seperti ini dengan sangat tidak sabar ditarik ke alam-alam bawah, bisa tiba-tiba meninggal dengan cara bunuh diri, tabrakan, dsb-nya.
Energi melik tidak akan pernah bisa hilang permanen sebelum kita mati, tidak peduli apapun upaya atau ritual yang kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah energi melik ini menjadi sesuatu yang berguna, sehingga energi melik ini menjadi "karunia luar biasa" dan bukan menjadi musibah.

Orang yang melik sesungguhnya sangat beruntung. Dalam urusan spiritual, secara alami sudah jauh lebih maju dibandingkan orang-orang biasa. Ibarat dari lahir memang dipersiapkan untuk memasuki alam-alam suci para Ista Dewata atau mencapai Moksha. Dengan tekun saja melakukan praktek sadhana, membina kesadaran, menjaga diri dan tidak melakukan kesalahan fatal, sampai waktu kematian menjemput, maka sangat mungkin dapat memasuki alam-alam suci para Ista Dewata atau mencapai Moksha. Berbeda dengan orang-orang biasa yang harus berjuang keras.
Selain itu, sesungguhnya orang melik adalah berkah bagi keluarganya. Karena jika dia dengan tekun saja melakukan praktek sadhana, membina kesadaran, menjaga diri dan tidak melakukan kesalahan fatal, maka dia akan menjadi “kapal laut” yang akan mengangkut keluarganya ke samudera kebahagiaan secara sekala maupun niskala.

Energi melik ini tidak akan membuat hidup menjadi banyak hambatan dan rintangan, tidak akan membuat hidup menjadi kacau dan banyak masalah, tidak akan membuat berumur pendek, tapi sebaliknya malah akan mendatangkan keselamatan dan karunia kehidupan jika orang melik bersedia melakukan hal-hal sebagai berikut, yaitu :
  1. Segera melakukan pewintenan Saraswati.
  2. Rajin memurnikan diri [melukat] di pura pathirtan [sumber mata air suci] yang sakral setidaknya satu kali setiap bulan pada hari rahina suci. Ini bertujuan pertama yaitu untuk memurnikan energi melik di dalam diri, agar energi tersebut tidak menjadi energi yang mengganggu emosi, atau menjadi sakit, atau menimbulkan kekacauan bagi kehidupan.Tujuan kedua yaitu untuk untuk memurnikan energi di dalam diri karena dalam kehidupan keseharian mungkin mengalami leteh karena secara tidak sengaja mesulub di jemuran, makan minum diluar yang tidak sukla, pergi ke tempat yang energinya tidak bagus, dsb-nya.
  3. Punya hati penuh belas kasih, penuh pengertian dan sering melakukan kebaikan-kebaikan, sehingga energi melik tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi yang indah, yang menyembuhkan jiwa dan raga. Rasakan sendiri bagaimana mekarnya perasaan bahagia di dalam diri ketika mengekspresikan energi melik untuk menolong, menyelamatkan, atau memberikan kebahagiakan untuk mahluk lain.
  4. Berusaha keras menahan diri dari perbuatan dan perkataan yang menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, serta menahan diri dari sifat-sifat mementingkan diri sendiri. Jangan terseret energi kemarahan, kebencian, keserakahan, jangan hanya memikirkan diri sendiri, jangan sedih terlalu dalam, jangan sombong, dsb-nya. Dengan tujuan agar energi melik tidak tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi yang menyeramkan. Yang tidak saja akan membuat orang melik menarik perhatian para mahluk alam-alam bawah, tapi juga membuat energi melik menjadi energi yang mengganggu emosi, menjadi sakit, atau menimbulkan kekacauan bagi kehidupan.
  5. Belajar dan berusaha untuk memiliki cara pandang positif terhadap diri kita sendiri, maupun kepada apa yang terjadi dalam kehidupan kita.
  6. Belajar dan berusaha untuk banyak bersyukur pada semua berkah-berkah kehidupan yang kita miliki dan pada apa yang kita dapatkan.
  7. Tekun mempraktekkan meditasi kesadaran [meditasi non-dualitas, advaitta-citta], sehingga energi melik tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi spiritual yang mengangkat kesadaran orang melik pada dimensi kesadaran Atma yang tinggi.
  8. Belajar dan berusaha semampunya untuk dapat bersikap ikhlas dan penuh kerelaan di dalam menghadapi rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Ketika kita disakiti orang lain atau tersakiti oleh situasi keadaan, atau ketika berada dalam situasi keadaan yang tidak nyaman, kita belajar dan berusaha semampu kita untuk menerimanya dengan tenang, damai dan keikhlasan sempurna.
  9. Tidak melakukan hubungan seks diluar nikah. Sebab jika melakukan hubungan seks diluar nikah akan mengacaukan energi orang melik. Hanya diperbolehkan melakukan hubungan seks dengan pasangan sah [suami / istri]. Artinya sudah menikah. Karena orang menikah dalam upacara pernikahan sudah di-pasupati, serta secara niskala sudah memperoleh restu, ijin dan perlindungan dari para Ista Dewata dan leluhur kedua belah pihak. Jika orang melik belum menikah kemudian sangat terdesak sekali perlu penyaluran nafsu seks, lebih baik melakukan [mohon maaf] masturbasi. Ini merupakan pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan melakukan hubungan seks diluar nikah. Karena energinya jauh lebih mudah untuk dimurnikan kembali.
  10. Selektif dalam makanan dan minuman. Jangan minum-minuman beralkohol, apalagi memakai narkoba. Karena itu akan mengacaukan energi orang melik. Hindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang diolah secara sembarangan [tidak sukla]. Bagus sekali dan sangat disarankan kalau bisa tidak memakan binatang berkaki empat.
  11. Selektif dalam pergaulan. Hindari bergaul dekat dengan orang yang tidak baik, seperti tukang gosip, hedonis, berandalan, dan sejenisnya.
  12. Selektif dalam memasukkan informasi ke dalam pikiran kita, seperti menonton tv, melihat berita, membaca buku, mendengarkan musik, melihat sosial media, dsb-nya. Misalnya jangan menonton sinetron dengan tema kebencian dan konflik, atau membaca berita tentang perang, kejahatan dan politik, dsb-nya.
  13. Tidak melanggar dresta-dresta [peraturan niskala] yang ada di suatu pura saat tirtayatra. Karena secara niskala hal ini dampaknya berbahaya bagi orang melik.
  14. Kalau bisa hindari untuk pergi ke sembarang tempat, yaitu tempat yang energinya buruk dan liar secara niskala [sama sekali tidak ada palinggih]. Terutama sekali, hindari untuk tidur di sembarang tempat.
Jika orang melik tekun dan tulus melaksanakan semua hal diatas, itu berarti dia sedang mengubah energi melik menjadi karunia kehidupan, dia sedang membangun kedamaian sejati di dalam diri [Manah Shanti], dia sedang menambahkan banyak kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan mahluk lain, dia sedang melanjutkan perjuangan spiritualnya dari kehidupan sebelumnya, serta sekaligus juga dia sedang menapaki jalan menuju kebangkitan kesadaran Atma.Selain itu, dia akan dapat menjadi “kapal laut” yang akan mengangkut keluarganya menuju samudera kebahagiaan secara sekala maupun niskala.

Jika di sekitar kita ada anggota keluarga atau kenalan yang melik, bantu dan bimbinglah dia ke arah yang tepat. Sehingga kelak dia akan terhindar dari garis kehidupan yang buruk, serta sekaligus dapat menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.
Salah satu pertanyaan yang sangat sering diajukan kepada saya adalah, apakah orang melik harus ngiring. Jawaban saya adalah orang melik tidak selalu harus ngiring.
Terlepas dari bahasan apakah orang melik hendak ngiring atau tidak, ingatlah satu pesan yang sangat penting ini.

Satu pesan sangat penting untuk semua orang melik maupun semua praktisi spiritual lainnya, adalah hendaknya kita sangat hati-hati untuk berhubungan dengan alam niskala, atau apalagi memasuki alam niskala. Karena hal itu resikonya besar. Jika kita hendak berhubungan dengan alam niskala, atau apalagi memasuki alam niskala, kita wajib harus berada dalam tuntunan dan perlindungan seorang Guru suci. Agar perjalanan kita aman dan sekaligus berjalan ke arah yang tepat.
Tapi seandainya kita tidak bisa mendapat tuntunan dan perlindungan dari seorang Guru suci, disana ada jalan alternatif lain untuk berhubungan dengan alam niskala, atau memasuki alam niskala.Di alam niskala terdapat sebuah hukum sempurna yang bekerja. Yaitu jika di dalam diri kita “sampah”, maka secara alami kita akan mengundang “lalat” untuk datang. Jika di dalam diri kita “bunga”, maka secara alami kita akan mengundang “kupu-kupu” untuk datang.Artinya, sebelum berhubungan dengan alam niskala, atau apalagi memasuki alam niskala, kita memiliki tugas penting untuk terlebih dahulu menyempurnakan kejernihan emosi kita, serta menyempurnakan belas kasih dan kebaikan kita kepada semua mahluk di alam nyata ini. Kepada manusia, kepada binatang dan semua mahluk.Nanti ketika kita sudah merasa emosi kita jernih [stabil], sudah merasa tidak punya musuh, sudah merasa belas kasih dan kebaikan kita mendalam kepada semua mahluk, disana barulah kita boleh berhubungan dengan alam niskala, atau memasuki alam niskala. Karena secara alami akan ada Ista Dewata yang menjadi Guru pembimbing kita di alam niskala. Hal itu sealami bunga yang akan mengundang kupu-kupu untuk datang.

Jadi artinya jika orang melik memiliki aspirasi untuk ngiring, yang berarti dia pasti akan berhubungan dengan alam niskala, atau memasuki alam niskala, dia memiliki 2 [dua] pilihan yang harus diikuti. Agar perjalanannya aman dan sekaligus berjalan ke arah yang tepat.
  • Pilihan pertama : dia wajib harus berada dalam tuntunan dan perlindungan seorang Guru suci. 
  • Pilihan kedua : dia wajib harus terlebih dahulu menyempurnakan kejernihan emosinya, serta menyempurnakan belas kasih dan kebaikannya kepada semua mahluk di alam nyata.
Share:

Wednesday, 14 November 2018

Dewata Nawa Sanga ( 9 Dewa Penjaga Penjuru Mata Angin )

Dewata Nawa Sanga

( 9 Dewa Penjaga Penjuru Mata Angin )

                      dewatanawasanga
Dewata Nawa Sanga adalah para Dewa Nawa Sanga yang mengisi delapan penjuru mata angin dengan Siwa sebagai penguasa berada ditengah-tengahnya yang sebagaimana disebutkan sebagai salah satu perwujudan simbol pemimpin dalam Loka Pala agar alam semesta ini menjadi stabil.
Dimana setiap arahnya merupakan perpaduan dari Panca Dewata beserta panca aksara sucinya sebagai karunia Tuhan tersendiri dalam menyelamatkan jiwa dari belenggu pikiran dan samsara sebagai salah satu bagian dari Panca Srada dalam keyakinan umat Hindu Dharma.
Kesembilan dari Dewata Nawa sanga tersebut sebagai penguasa yang menjaga penjuru mata angin yang pada awalnya disebutkan dalam Dewata Nawa Sanga,
                   dewata-nawa-sanga

Penjelasan Tentang Atribut Dewata Nawa Sanga

1.Dewa Wisnu

                                             Pura Batur

  • Arah : Utara/Uttara
  • Pura : Batur
  • Aksara : Ang
  • Senjata : Cakra
  • Warna : Hitam
  • Urip : 4
  • Panca Wara : Wage
  • Sapta Wara : Soma
  • Sakti : Dewi Sri
  • Wahana : Garuda
  • Fungsi : Pemelihara

2.Dewa Sambu

                                           Pura Besakih

  • Arah : Timur Laut/Airsanya
  • Pura : Besakih
  • Aksara : Wang
  • Senjata : Trisula
  • Warna : Biru/Abu-Abu
  • Urip : 6
  • Panca Wara :
  • Sapta Wara : Sukra
  • Sakti : Dewi Mahadewi
  • Wahana : Wilmana

3.Dewa Iswara

                                  Pura Luhur Lempuyang

  • Arah : Timur/Purwa
  • Pura : Lempuyang
  • Aksara : Sang
  • Senjata : Bajra
  • Warna : Putih
  • Urip : 5
  • Panca Wara : Umanis
  • Sapta Wara : Redite
  • Sakti : Dewi Uma
  • Wahana : Gajah Putih

4.Dewa Maheswara

                                         Pura Goa Lawah

 

  • Arah : Tenggara/Ghnenya
  • Pura : Goa Lawah
  • Aksara : Nang
  • Senjata : Dupa
  • Warna : Dadu/Merah Muda
  • Urip : 8
  • Panca Wara :
  • Sapta Wara : Wrhaspat
  • Sakti : Dewi Laksmi
  • Wahana : Merak

5.Dewa Brahma

                                        Pura Andakasa


 

  • Arah : Selatan/Daksina
  • Pura : Andakasa
  • Aksara : Bang
  • Senjata : Gada
  • Warna : Merah
  • Urip : 9
  • Panca Wara : Paing
  • Sapta Wara : Saniscara
  • Sakti : Dewi Saraswati
  • Wahana : Angsa
  • Fungsi : Pencipta

6.Dewa Rudra

                                          Pura Uluwatu

 

  • Arah : Barat Daya/Nairiti
  • Pura : Uluwatu
  • Aksara : Man
  • Senjata : Moksala
  • Warna : Jingga
  • Urip : 3
  • Panca Wara :
  • Sapta Wara : Anggara
  • Sakti : Dewi Samadhi
  • Wahana : Kerbau Putih

7.Dewa Mahadewa

                                        Pura Batukaru

  • Arah : Barat/Pascima
  • Pura : Batukaru
  • Aksara : Tang
  • Senjata : Naga Pasa
  • Warna : Kuning
  • Urip : 7
  • Panca Wara : Pon
  • Sapta Wara : Buda
  • Sakti : Dewi Sanci
  • Wahana : Naga

8.Dewa Sangkara

                                     Pura Pucak Mangu

 

  • Arah : Barat Laut/Wayabhya
  • Pura : Puncak Mangu
  • Aksara : Sing
  • Senjata : Angkus
  • Warna : Hijau/Welis
  • Urip : 1
  • Panca Wara :
  • Sapta Wara : Sukra
  • Sakti : Dewi Rodri
  • Wahana : Singa

9.Dewa Siwa

                           Pura Penataran Agung Besakih

  • Arah : Tengah/Madya
  • Pura : Besakih
  • Aksara : Ing/Yang
  • Senjata : Padma
  • Warna : Panca Warna
  • Urip : 8
  • Panca Wara : Kliwon
  • Sapta Wara :
  • Sakti : Dewi Durga
  • Wahana : Lembu
  • Fungsi : Pelebur

           Penjelasan Tentang Lokasi  Pura
  • Pura Batur terletak di Kabupaten Bangli
  • Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem
  • Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem
  • Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung
  • Pura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem
  • Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung
  • Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan
  • Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung
Share:

Friday, 9 November 2018

Pura – pura yang termasuk dalam Catur Loka Pala di Areal Besakih



Pura – pura yang termasuk dalam Catur Loka Pala di Areal Besakih :

1.    PURA GELAP, dengan posisi di TIMUR Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Iswara.



Dari jalan setapak di sebelah timur Pura Penataran Agung ke utara (jalannya agak menanjak kira-kira 5 menit perjalanan), terdapat Pura Gelap di ketinggian. Pelinggih pokok berupa Meru tumpang 3 di sana distanakan Hyang Iswara, di samping sebuah Padma, Palinggih Ciwa Lingga, Bebaturan Sapta Petala, Bale Pewedaan dan Bale Gong. Piodalan di Pura Gelap jatuh pada hari Soma Keliwon Wariga dan Aci Pengenteg Jagat pada setiap hari Purnama sasih Karo.
Di sinilah pura tempat umat maturan dan memohon kedamain pikiran dan kesejahteraan hidup sesuai dengan makna pengacinya yang disebut Aci Pengenteg Jagat. Pada waktu karya-karya di Pura Besakih semua pengangge-pengangge di Pura ini berwama serba putih.

WEDAWAKYA
Memuja Batara Iswara

Aham rudrebhir vasubhih caramy
aham adityair uta visvadevaih,
aham mitravarunobha bibharmy
aham indragni aham asvinobha.
(Rgveda.X.125.1).

Maksudnya:
Aku gerakkan kekuatan alam menjadi tenaga dan kekayaan. Aku bercahaya menjadi kekuatan yang cemerlang. Aku menyangga sumber kekuatan alam dalam wujud air dan cahaya. Aku adalah pusat energi, cahaya sebagai kehidupan yang datang dari matahari, udara, api dan segala kekuatan alam yang berguna.

PURA Besakih sebagai tempat pemujaan Tuhan adalah simbol Bhuwana Agung. Hal ini sangat sesuai dengan Mantra Yajurveda XXXX.1 yang menyatakan bahwa alam semesta inilah stana Tuhan yang sesungguhnya. Sebagai lambang alam semesta Pura Besakih dibagi menjadi dua bagian yaitu Soring Ambal-ambal dan Luhuring Ambal-ambal. Soring Ambal-ambal itu lambang alam bawah yang disebut Sapta Patala. Sedangkan Luhuring Ambal-ambal lambang alam atas yang disebut Sapta Loka.

Seluruh kompleks Pura Besakih itu terdiri atas 20 kompleks pura. Ada empat pura yang disebut Pura Catur Dala atau Catur Loka Pala yaitu Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batu Madeg. Di tengah-tengah ada Pura Penataran Agung Besakih terdiri atas tujuh Mandala atau tujuh lapisan alam atas atau Sapta Loka.

Pura Gelap sebagai salah satu Pura Catur Lawa adalah sebagai Pura Pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Batara Iswara pelindung arah timur alam semesta atau Bhuwana Agung. Nama-nama pura di kompleks Pura Besakih itu memang sangat khas lokal Bali. Tetapi di balik ciri khas lokal itu terbungkus konsep yang sangat universal. Memang pemuka-pemuka Hindu di masa lampau sudah menggunakan konsep ''berpikir universal berlaku lokal''. Meskipun tidak dengan istilah seperti itu.

Istilah ''gelap'' dalam nama Pura Gelap ini bukan berasal dari bahasa Indonesia. Kata ''gelap'' dalam nama Pura Gelap ini berasal dari bahasa Kawi yang artinya petir atau kilat dengan sinarnya yang putih menyilaukan itu. Pura Gelap sebagai media pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara yaitu dewanya sinar. Bumi ini bisa menjadi wahana kehidupan karena adanya sinar matahari. Sinar matahari inilah sebagai pemimpin sumber-sumber alam lainnya sehingga berfungsi memberikan kehidupan pada isi alam ini.

Tumbuh-tumbuhan meskipun disiram dengan air yang memadai tidak akan bisa hidup tanpa kena sinar matahari. Karena itu dalam kutipan Mantra Rgveda di atas dinyatakan Tuhan dalam wujud cahaya matahari itulah sebagai sumber kekuatan alam. Rohani orang-orang suci pun akan semakin kuat dengan meditasi pada cahaya alam tersebut. Karena itu pada zaman dulu, konon, Pura Gelap ini tempat meditasi para pandita maupun orang yang menyiapkan diri menjadi pandita.

Pura ini juga dinyatakan sebagai penegak dan pemelihara kesucian ''kependitaan''. Pura Gelap lambang dari pusat sinar Bhuwana Agung. Dengan sinar alam semesta ciptaan Tuhan ini semua kekuatan unsur alam ini menjadi berfungsi sebagai sumber kehidupan semua makhluk hidup penghuni alam ini. Karena itu Pura Gelap ini menjadi pusat meditasi umat manusia yang berkehendak membangkitkan sinar suci yang bersemayam dalam dirinya atau di Bhuwana Alit.

Kalau sinar Bhuwana Agung dapat terpadu dengan sinar di Bhuwana Alit atas usaha umat manusia maka keharmonisan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit pun terjadi. Hal ini sebagai salah satu penyebab terwujudnya kehidupan yang bahagia atau hita karana. Pura Gelap tidak semata-mata sebagai tempat meditasinya para pandita, tetapi juga sebagai tempat meditasi semua umat terutama mereka yang ingin mengembangkan kepemimpinannya secara baik dan benar.

Areal Pura Gelap ini mula-mulanya tidak begitu besar. Setelah direhabilitasi pura ini diperluas bahkan sekarang menggunakan Kori Agung. Sebelumnya hanya menggunakan Candi Bentar sebagai pintu masuknya. Karena pura ini merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Penataran Agung. Sebelumnya hanya Pura Penataran Agung yang menggunakan Kori Agung atau juga disebut Candi Kurung.

Pelinggih utama di Pura Gelap Besakih ini adalah Meru Tumpang Tiga sebagai media untuk memuja Batara Iswara sebagai manifestasi Tuhan pelindung arah timur dari alam semesta ini. Batara Iswara juga sebagai Dewa kecemerlangan dan kecerahan dari Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Atap Meru yang bertingkat-tingkat itu lambang pengelukunan Dasaksara dan lambang urip bhuwana.

Pengelukunan Dasaksara adalah Aksara ''Om'' yang bisa dikembangkan menjadi tiga aksara, lima, tujuh sampai sebelas aksara. Maknanya secara filosofis sama. Meru Tumpang Tiga makna filosofisnya sama dengan Meru Tumpang Lima sampai Sebelas.

Menurut Kekawin Dharma Sunia, Meru itu adalah lambang alam atau Bhuwana stana Tuhan yang sesungguhnya. Meru Tumpang Tiga di Pura Gelap lambang Tri Bhuwana yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Artinya Tuhan sebagai Batara Iswara menyinari kehidupan di Tri Bhuwana tersebut. Di dalam Meru Tumpang Tiga ini terdapat batu simbol Lingga stana Batara Siwa. Di samping itu, di Pura Gelap ada Pelinggih Sanggara Agung yang menyerupai Padmasana untuk menstanakan tirtha yang diambil dari Pura Tirtha saat ada upacara penting di Pura Penataran Agung Besakih.

Di Pura Gelap terdapat juga Pelinggih Dasar Sapta Patala. Pelinggih ini sebagai media memuja Tuhan sebagai jiwa alam bawah yang terdiri atas tujuh lapisan yang disebut Sapta Patala. Unsur-unsur Sapta Patala ini setelah mendapatkan sinar alam semesta barulah akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kerja sama alam inilah yang menghasilkan unsur-unsur alam yang menyebabkan berlangsungnya kehidupan di bumi ini.

Oleh karena itu, manusia hendaknya tidak merusak kerja sama unsur alam ini. Karena kerja sama unsur alam ini berlangsung berkat adanya Rta yaitu hukum alam ciptaan Tuhan. Merusak proses alam sesuai dengan Rta berarti dosa karena tergolong perilaku melawan takdir Tuhan. * I Ketut Gobyah








2.    PURA ULUN KULKUL, dengan posisi di BARAT Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Mahadewa.



 PURA Ulun Kulkul dalam Pangider-ider Pura Catur Dala yang berada di wilayah barat dari Pura Penataran Agung Besakih.

Mengapa pura ini disebut Pura Ulun Kulkul, karena di Pura ini terdapat hulunya Kulkul di seluruh Bali. Di pura ini umat mohon taksu kalau membuat kulkul atau kentongan sebagai alat komunikasi tradisional. (Mestinya dalam alam modern ini, kita bisa mohon taksu untuk ponsel kita, agar kondisinya tetap prima dan tidak mudah terganggu).

Fungsi utama dari Pura Ulun Kulkul ini adalah sebagai media pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dalam manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa. Pelinggih utama sebagai pemujaan Bathara Mahadewa adalah di Pelinggih Gedong Sari (7). Pelinggih ini berbentuk segi empat beratap ijuk agak meruncing keras. Pelinggih ini letaknya di arah tenggara dari areal Pura Ulun Kulkul dan diapit oleh Palinggih Pepelik (5 & 6) sebagai tempat mengaturkan upakara saat ada upacara besar atau kecil. Dua Pelinggih Pepelik ini sebagai tempat mengaturkan dua macam upakara. Dalam Sarasamuscaya ada disebutkan persembahan itu ada dua jenis yaitu Ista dan Purta. Ista adalah upakara sebagai media permohonan untuk mengembangkan niat-niat spiritual untuk membangun kemajuan jiwa. Sedangkan Purta simbol permohonan untuk memajukan kesejahteraan hidup duniawi. Karena itu di Pura Ulun Kulkul diadakan setiap Tilem Sasih Ketiga di upacara Pengurip Bumi. Bumi ini ke bawah memiliki tujuh lapisan yang disebut Sapta Patala. Kalau masing-masing lapisan ini berfungsi dengan sebaik-baiknya maka kehidupan di permukaan bumi ini akan berlangsung dengan baik. Di semua lapisan-lapisan bumi ini ada kemahakuasaan Tuhan sehingga lapisan bumi ini dapat berdinamika sesuai dengan hukum Rta. Kalau lapisan bumi ini dapat berfungsi sesuai dengan hukum Rta maka sumber-sumber alam akan berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup di permukaan bumi ini. Karena itu Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk memohon agar tanah seperti sawah, ladang maupun hutan dapat menjadi tempat tumbuhnya tanam-tanaman dengan suburnya.Sementara kulkul besar hulu dari kulkul di Bali diletakkan di Pelinggih Bale Agung (2) bertiang delapan.

Di Bali kalau ada umat atau desa membuat kulkul, pada saat melaspas kulkul-nya umat nunas tirtha di Pura Ulun Kulkul ini agar kulkul-nya mataksu ditaati oleh umat. Memang sebagian besar kompleks Pura Besakih ini sebagai hulunya berbagai pemujaan umat Hindu yang ada di seluruh Bali. Oleh karena itu sudah sangat tepatlah Pura Besakih berkedudukan sebagai Huluning Bali Rajya. Artinya kepalanya Pulau Bali. Sedangkan pusatnya adalah Pura Pusering Tasik.Fungsi kulkul sesungguhnya sebagai sarana untuk memohon adanya suasana yang rukun, aman dan damai. Karena salah satu tujuan hidup bersama adalah mendapatkan rasa aman dan sejahtera.

Dalam Manawa Dharmasastra 1.89 disebut Raksanam dan Dhanam. Raksanam artinya mohon keamanan dan Dhanam artinya memohon kesejahteraan ekonomi. Dua kebutuhan rakyat dalam kehidupan bersama ini menjadi tanggung jawab para pemimpin.Karena itu Raja sebaga Ksatria didampingi oleh Bhagwanta atau pendeta istana menekankan pendirian Pura Besakih termasuk Pura Ulun Kulkul ini. Kalau ada anggota masyarakat yang diduga berbuat salah seperti mencuri atau perbuatan yang melanggar hukum lainnya, maka di Pura Ulun Kulkul inilah diselenggarakan upacara ''Penyumpahan''. Hal ini untuk membuat umat menjadi takut berbuat melanggar hukum. Penyumpahan ini sebagai bukti bahwa Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk membangun rasa aman atau Raksanam.Penyumpahan ini bertujuan untuk menanamkan pada lubuk hati umat bahwa kalau mereka melanggar hukum Tuhan pasti tahu. Inilah cara menanamkan cara pengawasan oleh diri sendiri agar umat menjaga prilakunya. Dengan demikian Raja akan lebih mudah membangun rasa aman dalam kerajaannya.

Pura Ulun Kulkul juga berfungsi sebagai Pura untuk memohon keselamatan ''Sarwa Mule''. Yaitu barang-barang berharga seperti emas, perak, dan batu-batu permata yang diyakini memiliki tuah spiritual. Karena benda-benda ini bentuknya kecil sehingga sangat mudah hilang, apa lagi zaman dahulu tidak ada peti besi (bran-kaas, safety deposit box) seperti sekarang untuk menyimpan benda-benda berharga itu. Dengan memuja Tuhan sebagai Bhatara Mahadewa umat yakin akan keamanan barang-barang mereka yang berharga itu. Demikian juga umat yakin kalau memiliki barang-barang berharga mereka mohonkan Tirtha di Pura Ulun Kulkul sebagai stana Dewanya ''Sarwa Mule''. Hal itu diyakini akan mendapatkan perlindungan dari Bhatara Mahadewa. Demikian juga para pencuri akan takut mencuri barang-barang yang sudah dimohonkan perlindungan di Pura Ulun Kulkul.Kalau mereka berani mencuri mereka akan segera ketahuan atau akan mendapatkan ''pastu'' dari Bhatara Mahadewa. Cara pengamanan ini bersifat Niskala. Pada zaman modern sekarang ini keyakinan orang pada hal-hal Niskala itu agak menipis, karena itu pengamanan Niskala itu hendaknya disertai dengan pengamanan Sekala. Di samping itu menurut ajaran Hindu dalam hidup ini memang tindakan manusia harus selalu diupayakan seimbang antara tindakan Sekala dan Niskala.Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai keseimbangan itu yang diawali dari melakukan upaya Niskala untuk memperoleh rasa aman sebagai salah satu unsur yang mutlak untuk mendapatkan hidup yang harmonis.


3.    PURA BATU MADEG, dengan posisi di UTARA Padma Tiga , sebagai stana Ida Bhatara Wisnu.



Untuk mencapai Pura Batu Madeg ini kita berjalan kaki keutara disebelah Barat Suci dan kemudian membelok sedikit ke Barat.
Pura ini cukup luas di mana di dalamnya banyak terdapat palinggih-palinggih dan meru. Palinggih pokok adalah stana Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Hyang Wisnu berupa meru tumpang 11. Upakara Yadnya atau Pangaci di pura Batu Madeg terdiri dari piodalan pada hari Soma Umanis Tolu, Ngusabha Warigadian pada hari penanggal 5 sasih kelima dan Benaung Bayu pada hari tilem sasih kelima.
Palinggih-palinggih di Pura Batu Madeg antara lain:
  1. Bebaturan tempat memuja Bhatara Gajah Waktera. Di masa-masa yang lalu yaitu pada waktu perjuangan merebut kemerdekaan, konon para pejuang banyak yang bersemadhi di palinggih ini.
  2. Bebaturan linggih Bhatara Batudinding.
  3. Gedong Palinggih Bhatara Pujungsari.
  4. Meru tumpang 11 Palinggih Bhatara Manik Bungkah.
  5. Meru tumpang 11 Palinggih Bhatara Bagus Babotoh.
  6. Meru tumpang II Palinggih Bhatara Sakti Batu Madeg (Hyang Wisnu).
  7. Bebaturan Palinggih I Ratu Kelabangapit, tempat masyarakat memohon keselamatan bila akan membuat empelan (bendungan besar) dan memohon agar sawah-sawahnya tidak mengalami kekurangan air.
  8. Meru tumpang 9 Palinggih Bhatara Manik Buncing.
  9. Meru tumpang 9 Palinggih Bhatara Manik Angkeran yang dimuliakan oleh para prati sentananya dan sekarang dikenal dengan sebutan Pinatih, sulang dan Wayabya, di samping oleh Masyarakat umat Hindu umumnya.
  10. Bale Tegeh Palinggih Lingga.
  11. Bale Pesamuhan Agung tempat pemujaan umum ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagi Hyang Wisnu.
  12. Bebaturan Pelinggih Bhatara Sanghyang Batur.
  13. Gedong Palinggih Sanghyang Kumpi Batur.
  14. Enam buah Bale Pelik diantaranya terdapat tempat pemujaan pada Dukuh Suladri di Bale Pelik bagian Timur.
  15. Bangunan-Bangunan Bale Pegat, Bale Gong, Bale Pewedaan, dan Candi bentar.
Bila terdapat karya-karya agung di pura Besakih demikian pula pengaci di pura Batu madeg, maka semua palinggih-palinggih yang terdapat di Pura ini dihias dengan pengangge-pengangge Palinggih seperti ider-ider, Lelontek, Pedapa dan lain-lainnya dengan warna serba hitam.





4.    PURA KIDULING KRETEG, dengan posisi di SELATAN Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Brahma.


 Dari Pura Penataran Agung ke timur melewati jalan setapak di sebelah menyebelah pura-pura Pedharman dan pada ujung timur terdapat Pura Kiduling Kreteg, yaitu di sebelah Timur sungai melalui sebuah jembatan. Luas Pura ini demikian pula jumlah palinggih-palinggihnya hampir sama dengan Pura Batu Madeg, di mana pelinggih pokoknya Meru tumpang 11 kahyangan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Hyang Brahma. Di dalam lontar-lontar Pura ini kadang-kadang dinamai Pura Dangin Kreteg dan kadang Pura Kiduling Kreteg, mungkin karena tempatnya seolah-olah berada di sebelah timur jembatan dan seolah-olah di sebelah selatan jembatan kalau kita sedang berada di Pura Penataran Agung . Ini bisa dimengerti karena Pura Besakih sesungguhnya tidak sepenuhnya menghadap ke Selatan tetapi agak miring kearah Barat berhadapan dengan Pura Luhur Uluwatu di desa Pecatu Kabupaten Badung. Ini pulalah sebabnya Pura Luwur Uluwatu dan Pura Besakih Hyang Hyangning Segara Ukir atau Hyang Hyangning Segara Gunung dalam arti Pura Luhur Uluwatu berfungsi Predana dan Pura Besakih Purusa.
Adapun bangunan-bangunan pelinggih yang terdapat di Pura Kiduling Kreteg antara lain:
  1. Meru tumpang 11 Pelinggih Hyang Brahma, yang oleh umum disebut Bhatara Agung Sakti.
  2. Meru Tumpang 7 Pelinggih Bhatara Bayu, yang oleh umum disebut I Ratu Bagus Bayusan.
  3. Meru tumpang 5 Palinggih Ida Ratu Bagus Swa.
  4. Meru tumpang I I Palinggih Ida Ratu Bagus Cili.
  5. Meru tumpang 5 Palinggih Ida Ratu Bagus Soha.
  6. Meru tumpang 3 Palinggih Ida Ratu Sihi.
  7. Meru tumpang 3 Palinggih Dewa-Dewi.
  8. Bale Pesamuan Agung.
  9. Bale Agung.
  10. Bale Pegat.
  11. BalePawedaan.
  12. Bebaturan.
  13. Bale Tegeh.
  14. Bebaturan.
  15. Panggungan.
  16. Bale Gambang.
  17. Bale Gong.
  18. Candi Bentar.
  19. Bale Pesambiyangan.

Piodalannya jatuh pada Anggara Wage Dungulan atau Penampahan Galungan, sedang Aci Panyeeb Brahma diselenggarakan setahun sekali pada hari purnama sasih Kaenem. Aci Panyeeb Brahma adalah untuk memohon agar padi di sawah tidak merana dan hangus kekeringan. Dalam karya-karya di pura Kiduling Kreteg, semua penganggen pelinggih berwarna merah.


5. Pura Penataran Agung Besakih , Posisi di Tengah

Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.

Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik Pura Besakih telah mengalami perkembangan dari kebudayaan pra-hindu dengan bukti peninggalan menhir, punden berundak-undak, arca, yang berkembang menjadi bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil kebudayaan masa Hindu.

Latar belakang keberadaan bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung tersebut sebagai istana Dewa tertinggi.

Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan jati dirinya sebagai manusia homo religius dan mempunyai budaya yang bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang menyangkut aktivitas kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu.

Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga memengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Perubahan tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang menyangkut tentang konsep ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana umat Hindu dalam bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam melakukan aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu Dharma di Bali.



Share:

Wednesday, 1 March 2017

Foto Bali Festival Ogoh-Ogoh tahun 2011 dan 2010


Tradisi Umat Hindu masih sangat kental, unik, dan memiliki beragam budaya adatnya. Menjelang Perayaan Hari Raya Nyepi Biasanya Umat Hindu akan mengadakan hari raya pengerupukan dimana terdapat ogoh-ogoh dalam perayaan ini. "Ogoh-ogoh" merupakan suatu bentuk simbolis yang menyerupai bentuk Bhuta Kala(Setan)atau boneka raksasa yang dimana akan dilebur(dibakar) setelah upacara pengerupukan selesai, tujuannya adalah dimaksudkan sebagai perwujudan perayaan menyambut Tahun Baru Caka menurut Hindhu dan simbolis dalam menetralisir sifat jahat bhuta kala, terutama di dalam manusia itu sendiri terdapat sifat setan sehingga harus dinetralisir. Sehingga pada saat penyepian biasanya umat Hindhu akan melakukan pembersihan diri, pengheningan diri,dan perenungan diri untuk menahan segala rasa nafsu sebagai perwujudan rasa intropeksi terhadap diri sendiri untuk melenyapkan sifat setan yang ada dalam dirinya.
Berikut merupakan ogoh-ogoh hasil dari Karya Seni dan Kreatifitas Orang Bali Hindu yang berasal dari suatu Organisasi Sekaa Teruna dari masing-masing banjar : let's check in...


Foto Bali Festival Ogoh-ogoh Tahun 2011 :















































































































Foto Bali Festival Ogoh-ogoh Tahun 2010 :

































































































Share:

Translate

Subscribe Channel

Followers

Pengunjung Blog

Flag Counter

Total Pageviews

Hosting Unlimited Indonesia