Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini
menjadi rancu dengan kata sangguhu yang berarti sang guru atau sang
guhung (sebutan ini tidak terlepas dari peranan leluhur bhujangga
waisnawa yang menjadi pembimbing atau guru spiritual). demikan juga
halnya dengan kata sengguan/sengguhan yang dapat berarti tempatnya i
senggu/ i sengguh, dan kata sangguhuan yang artinya karang setra/suci.
hal ini tidak terlepas dari tempat tinggal Ida Bhujangga Waisnawa yang
selalu berdekatan dengan karang tenget atau karang setra karena sang
Bhujangga mempunyai kemampuan sebagai pamahayu jagat, pangalebur lan
panglukat sahananing leteh (melebur dang menyucikan segala kekotoran.
Penyebutan
kata senggu atau sengguh berasal dari kisah pada jaman Dalem
Waturenggong di klungkung. Pada zaman pemerintahan dalem Waturenggong,
salah satu purohita beliau dari Bhujangga Waisnawa adalah Ida Bhujangga
Guru. Selain sebagai purohita, Ida bhujangga juga berperan sebagai Guru
bagi putra-putri sang raja.
Salah satu putri dari dalem waturenggong
bernama Dewa Ayu laksmi ketika beranjak dewasa akhirnya jatuh cinta dan
menikah dengan Ida Bhujangga Guru. Hal ini mengundang kemarahan dari
Dalem Waturenggong, karena pernikahan terjadi diluar sepengetahuan
beliau dan apalagi pernikahan tersebut terjadi antara guru dan murid.
Kemarahanan dalem ditunjukkan dengan perintah untuk membunuh Ida
Bhujangga Guru mengetahui hal tersebut Ida Bhujangga Guru segera "kesah"
atau melarikan diri ke daerah pegunungan di tabanan (jatiluwih) tempat
tinggal ayahnya yaitu Ida bhujangga Angker atau Ida Resi Canggu.
Kepergian Ida Bhujangga Guru dari gelgel (klungkung) masih meninggalkan
putra beliau dari istri pertama. Putra beliau bernama Ida Bhujangga Alit
Adiharsa.
Suatu ketika, Dalem waturenggong mengadakan upacara
yadnya. Beliau mendengar tentang keberadaan Danghyang Nirartha yang baru
datang dari jawa. Namun ketika Danghyang Nirartha dipendak atau
dijemput, Danghyang Nirartha sedang tidak berada di pasraman, yang ada
saat itu adalah I Kelik yang merupakan salah satu pengikut Danghyang
Nirartha. I Kelik ini mengaku sebagai Danghyang Nirartha, maka diajaklah
dia ke istana. Lalu ketika I kelik yang dikira danghyang nirartha ini
melantunkan puja selayaknya pandita, datanglah Danghyang Nirartha dan
Ida Bhujangga Alit Adiharsa. mengetahui hal ini membuat I Kelik menjadi
ketakutan dan melarikan diri. Dalem menjadi marah karena merasa
dibohongi, lalu diperintahkan untuk mengejar dan menangkap I Kelik yang
telah membohongi raja. Akan tetapi atas permintaan Danghyang Nirartha, I
Kelik akhirnya diampuni oleh dalem. I Kelik kemudian disebut I Sengguh
yang artinya yang dikira.
Dalam perkembangan selanjutnya di Istana,
oleh karena kemarahan Dalem Waturenggong terhadap Ida Bhujangga Guru,
Ida bhujangga Alit Adiharsa menjadi tidak dianggap. Segala nasehat dari
Ida bhujangga tidak pernah diperhatikan. Ida Bhujangga Alit merasa tidak
nyaman dan akhirnya memilih untuk ikut kesah dari gelgel. Dengan
perginya sang Bhujangga maka dikatakan bahwa Ida Bhujangga telah moksah
(padahal kesah yang artinya pergi)lama-kelamaan kondisi negara semakin
kacau karena purohita yang bertugas sebagai pemarisudha gumi atau
pemahayu jagat sudah tidak ada.
Hal ini membuat Ida dalem menjadi
resah. Atas saran Danghyang Nirartha, Dalem akhirnya setuju untuk
mengangkat I Kelik sebagai pengganti Ida Bhujangga. I Kelik kemudian
dijari oleh Danghyang Nirartha puja-puja weda sebagai dang katrini dan
juga semua pusaka dan piagem-piagem sang Bhujangga yang telah kesah
diberikan kepada I Kelik. Selanjutnya I Kelik ditapak (ditasbihkan) oleh
Danghyang Nirartha sebagai Jero Gede (menurut Lontar Tutur kudalini).
Maka
sejak itu peranan Ida Bhujangga diambil alih oleh Jero Gede (senggu).
dan berita yang beredar bahwa Ida Bhujangga telah moksah, sudah tidak
ada lagi preti sentananya. Padahal sebenarnya Ida bhujangga hanya pergi
dari klungkung (pusat kerajaan bali pada waktu itu).
Sudah
jelaslah perbedaan antara Bhujangga waisnawa dan senggu. Bhujangga
waisnawa merupakan keturunan dari Ida Resi Makandeya dan sudah ada
berabad-abad di bali jauh sebelum kedatangan majapahit ke Bali.
Sementara senggu ada sejak pemerintahan Dalem Waturenggong, yaitu zaman
setelah kedatangan Majapahit ke Bali. Ida Resi Bhujangga "ditapak" oleh
Ida Resi Nabe Bhujangga Waisnawa, sementara Jero Gede "ditapak" oleh Ida
Nabe Siwa.
Setelah kejadian di Gelgel tersebut maka peranan
bhujangga waisnawa terpinggirkan ditambah lagi setelah Danghyang
Nirartha atas restu Dalem Waturenggong, merestrukturisasi kehidupan
masyartakat dengan mengeluarkan sistem kasta. dimana yang disebut
golongan Brahmana adalah Danghyang Nirartha beserta keturunannya dan
Danghyang Astapaka (saudara danghyang nirartha) beserta turunannya.
Ksatria adalah Raja dan keluarganya, Arya adalah para patih dan punggawa
kerajaan dan diluar ketiga golongan itu adalah Sudra.
Demikianlah
cerita tentang Bhujangga Waisnawa dan Senggu, semoga bermanfaat. Tulisan
ini bukan bertujuan untuk mendiskreditkan dan mejelekkan golongan
tertentu. Melainkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan saja
khususnya untuk para semeton bhujangga waisnawa. marilah para semeton
bhujangga waisnawa tetap teguh memegang sasana ke bhujanggaan, yaitu
untuk selalu arif dan bijaksana namun rendah hati. Bu artinya
Bumi/pertiwi, Ja artinya air suci, Ngga artinya nagasari, sarining sekar
anyuksemaning tirta jati utama maka perihaning wong kabeh (lontar kerta
bhujangga). Bhujangga adalah air atau tirta suci yang dapat
membersihkan bumi dan segala isinya atau dengan kata lain adalah sebagai
pengayom.
Pura Luhur Bhujangga Waisnawa
Pura Luhur Bhujangga Waisnawa merupakan
tempat suci sebagai media pemujaan Bhatara Kawitan (Leluhur) dari Wangsa
Bhujangga Waisnawa. Pura Luhur Bhujangga Waisnawa ini di samping
sebagai Pura Kawitan sangat diyakini di masa lampau sebagai suatu
pasraman. Di tempat ini dipuja roh suci leluhur atau Dewa Pitara dari
Wangsa Bhujangga Waisnawa dan tentunya juga sebagai media pemujaan pada
Tuhan dalam berbagai manifestasinya.
Menurut catatan sejarah, dinyatakan
bangunan suci ini didirikan oleh Ida Bagus Angker yang setelah dwijati
bergelar Ida Bhagawan Resi Canggu. Ida Bagus Angker ini juga sebagai
pendiri Pura Petali yang berada di areal lebih di bawah dari Pura Luhur
Bhujangga Waisnawa. Ida Bagus Angker mendirikan Pura Luhur Bhujanga
Waisnawa dan Pura Petali di Desa Jatiluwih ini pada zaman pemerintahan
di Bali dipimpin oleh Dalem Watu Renggong dengan ibu kotanya di
Klungkung. Dalem Watu Renggong memerintah di Bali dari tahun 1460-1550
Masehi.
Pura Luhur Bujangga Waisnawa terletak di
Dusun Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.
Tempat ini dapat dijadikan salah satu tujuan wisata anda saat berkunjung
dan berwisata di Pulau Bali. Arsitektur menawan serta keindahan
ukiran-ukiran yang terukir di bangunan pura akan menjadi pemandangan
yang menakjubkan bagi anda yang berkunjung ke objek wisata pura ini.
Letak dari objek wisata ini juga berdekatan dengan beberapa objek
wisata, diantaranya yaitu objek wisata Jatiluwih, Pura Luhur Petali, Air
Panas Belulang dan Bali Butterfly Park. Di pura luhur bhujangga ini juga terdapat 2 Beji, yaitu Beji Kauh dan Beji Kangin
Beji Kauh
Beji Kauh berada di sebelah barat saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa.
Para pemedek yang tangkil biasanya melakukan penglukatan di beji kauh dan beji kangin. Beji Kauh terdapat sumber mata air yang mengalir dan berasal dari gunung batukaru.
Beji Kangin
Beji Kangin berada di sebelah timur saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa
Beji kangin terdapat kolam yang diatasnya ditumbuhi lumut dan kapu-kapu.