Blog ini dibuat untuk memberikan informasi mengenai seni, budaya, teknologi, serta destinasi wisata

  • Budaya

    Halaman ini memuat tentang kebudayaan

  • Seni Musik

    Halaman ini memuat tentang seni musik

  • Seni Tari

    Halaman ini memuat tentang seni tari

  • Teknologi

    Halaman ini memuat informasi teknologi (IT)

  • Destinasi Wisata

    Halaman ini memuat tentang pariwisata

Featured post

Pura Luhur dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

Pura dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa       Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini menj...

Thursday, 27 June 2019

Menghapus Virus Hidden dengan mudah Dengan Command Prompt (CMD) 100% Work

Pernahkan Flashdish anda terkena virus yang membuat data anda menghilang begitu saja, namun di penyimpanananya tetap full tetapi data di dalamnya menghilang begitu saja


Mungkin saja fungsi virus ini adalah menghapus semua data lalu menambahkan sedikit program untuk bisa menjangkiti komputer yang lain, namun ternyata dugaan saya berbeda saat saya melihat ukuran kapasitas yang tidak kosong, kemudian saat itu juga dugaan saya menjadi virus ini adalah virus dengan fungsi super hiden, namun pertanyaannya adalah dimana disembunyikan?.

sebuah file system volume information merupakan Hidden System folder (folder yang tersembunyi/sengaja disembunyikan oleh system windows) yang digunakan oleh System Restore untuk menyimpan informasi dan Restore points. disanalah tempat virus itu mengalihkan data mereka.
nah untuk file satu lagi yang menggunakan extension .BAT adalah injeksi sebuah command berikut



virus yang berjalan:
virus dalam startup:


virus ini sebenarnya tidak berbahaya, hanya sedikit menjengkelkan karena menyembunyikan semua File. Caranya mengatasinya adalah :
  1. Masuk ke partisi
  2. Hapus semua attrib hidden system “attrib -s -h /s /d”
  3. Tunggu sampai proses selesai
  4. Kemudian buka flashdish dan pindahkansementara semua file didalamnya
  5. Format Flashdisk, bertujuan agar virus bersih dari flashdish
  6. Pindahkan file yang dipindahkan sementara tadi ke flashdish



Selamat Mencoba, Semoga Berhasil
Share:

Sunday, 2 December 2018

Destinasi Wisata di Kota Denpasar



         Denpasar, sebagai ibukota dari Provinsi Bali tentu banyak dikenal oleh masyarakat. Terlebih lagi, kota tersebut terletak di Pulau Bali yang merupakan destinasi wisata dunia. Namun hingga kini tidak banyak orang yang mengetahui betul bagaimana sejarah terbentuknya Kota Denpasar hingga seperti sekarang.
 
      Dalam sejarahnya, Denpasar adalah sebuah taman. Namun taman tersebut tidak seperti taman pada umumnya, karena merupakan taman kesayangan dari Raja badung pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya. Pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini menjadi Pasar Satria. Taman ini unik, karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam. Hobi Kyai Jambe Ksatrya adalah bermain adu ayam, oleh karena itu tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk bermain adu ayam di taman tersebut.
     “Jika dibandingkan dengan sekarang, taman tersebut semacam villa persitirahatan”, ujar AA Ngurah Putra Darmanuraga, penekun sejarah sekaligus tokoh di Puri Pemecutan.
Nama denpasar sendiri terdiri dari dua kata yaitu “den”  yang berarti utara dan “pasar” yang berarti pasar. Nama ini diberikan pada taman tersebut mengingat lokasinya yang terletak di utara pasar. Kini taman tersebut menjadi Jaya Sabha, rumah jabatan untuk Gubernur Bali. Secara administratif, Kota Denpasar diresmikan sebagai sebuah kota pada tahun 1788. Pembentukan kota ini mengalami proses yang panjang, bahkan sejak Pulau Bali masih ditinggali oleh kerajaan-kerajaan.
        Kota Denpasar didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan keturunan dari Puri Pemecutan. Nama Denpasar muncul pada saat wilayah yang dahulunya disebut sebagai wilayah Badung ini dipimpin oleh dua kerajaan yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Menurut peneliti sejarah Kota Denpasar yang juga Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan, di saat itu terdapat dua puri yang menandakan adanya dua pemerintahan yaitu Puri Alang Badung dan Puri Pemecutan.
         Kedua pemerintahan tersebut sebenarnya dipimpin oleh keturunan yang sama, yaitu Kyai Jambe Pula. Pembagian dari keduanya pun cukup jelas, dengan wilayah barat Tukad Badung yang dikontrol oleh Puri Pemecutan, sedangkan sebelah timur Tukad Badung pimpin oleh Puri Jambe Ksatrya.Puri Denpasar, yang pernah diserang oleh Belanda. Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya itulah yang kemudian dijuluki sebagai Denpasar. Hanya saja nama Denpasar belum merujuk pada kota tertentu. Namun Puri Denpasar kemudian dihancurkan oleh kolonialisme Belanda, yang terjadi ketika terjadinya Perang Puputan Badung. Hingga kemudian bangunan bekas Puri Denpasar hanya digunakan sebagai kantor Asisten Residen Bali Selatan dan juga Kontroleur Badung.
Puri Denpasar sendiri dibangun ulang oleh Cokorda Alit Ngurah yang pada tahun 1929 dinobatkan sebagai Regent Badung. Namun dikarenakan lokasi Puri Denpasar yang baru adalah bekas lokasi dari Puri Jambre Ksatrya, masyarakat Bali justru menyebutnya sebagai Puri Satria hingga sekarang.

Destinasi Wisata :

Pantai:
1. Pantai Sanur


2. Pantai Matahari Terbit


3. Pantai Sindhu 

4. Pantai Segara

5. Pantai Semawang


6. Pantai Padang Galak



Sungai :
1. Sungai Badung ( di samping Pasar Badung )

2. Sungai Bindu ( di Banjar Ujung-Kesiman )

Share:

Thursday, 29 November 2018

Alat Musik Penting (Mandolin) Ciri Khas Karangasem



Seni gamelan khas dan langka Karangasem yang diberi nama “Penting” atau bisa disebut dengan Mandolin. Kesenian Penting pernah mencapai masa keemasannya pada masa-masa akhir kerajaan Karangasem. Sampai pada era tahun 1980-an kesenian ini masih mudah dijumpai dalam bentuk perorangan maupun seka dan pernah beberapa  kali tampil di televisi dan di PKB.   Namun setelah beberapa tahunnya Kesenian Penting mulai kelam, karena kebanyakan tokoh-tokohnya meninggal dunia. Disamping itu desakan dari kesenian modern dan perkembangan dunia modern membuat kesenian penting ini semakin terancam, karena minat dari kalangan anak muda untuk memainkan alat musik ini agak kurang. Anak muda jaman sekarang lebih ke genre musik modern seperti memainkan gitar.

Seiring berkembangnya zaman sedikit demi sedikit kesenian penting sudah mulai diminati kembali. Banyaknya sekaa penting sudah bersinergi di sanggar-sanggar kesenian maupun komunitas kesenian.  Sesudah itu  muncul Sekaa Penting binaan Puri Gede Karangasem koordinator Ida Bagus Jaya Negara, S.H. Peminat kalangan muda untuk memainkan alat musik penting sudah semakin meningkat, lagu-lagu klasik dan perkembangan kesenian inovatif yang terdapat alat musik penting sudah mulai berkembang. Alat musik penting sudah dikolaborasikan dengan genjek, dengan gong suling, serta joged bumbung. Penulis berharap semua kesenian di Bali pada khusunya dan di Indonesia pada umumnya semakin mengancah dunia internasional.


Share:

Wednesday, 28 November 2018

Tari Jempiring ( Maskot Kota Denpasar )

Sejarah Tari Sekar Jempiring 

 

Jempiring adalah sebuah tanaman yang merupakan “MASKOT” Kota Denpasar yang berwawasan budaya dengan warna putih berbau khas tersendiri, terhembus gemulai oleh angin sepoi-sepoi menari disetiap sudut kota.
Terinspirasi oleh seorang Bintang Puspayoga, terciptalah sebuah tari penyambutan untuk tamu-tamu disetiap acara-acara resmi Pemerintah Kota Denpasar. Dengan keinginan yang luhur bersama-sama para seniman Kota Denpasar, terwujudlah Tari Sekar Jempiring yang merupakan kado kenangan bagi masyarakat Denpasar di akhir masa tugas beliau pada akhir 2004.
Terselip oleh makna keagungan, keharuman dan kesucian bunga jempiring, penggarap menginterprestasikan dalam bentuk tari yang terkemas dari pola-pola gerak tradisi yang dikembangkan menjadi bentuk baru dan terkombinasi oleh musik gambelan Gong Kebyar yang kekinian sesuai kelemah – lembutan bunga jempiring.
Terkemasnya komposisi musik dan tari ini maka lahirlah sebuah tarian dengan judul “SEKAR JEMPIRING”
Penggagas Ide : Ibu Bintang Puspayoga
Penata Tabuh   : I Ketut Suandita, Ssn
Penata Tari       : Ida Wayan Arya Satyani, Ssn
Share:

Tuesday, 27 November 2018

Alat Musik Tradisional Bali ( Rindik Bambu ) dan Video

 

Sejarah Singkat Alat Musik Rindik

Seperti Dikutip Dari Wikipedia. Sejarah Alat Musik ini Berawal ketika pihak wengker atau ponorogo melakukan pemberontakan kepada majapahit, dan ketika adanya serbuan dari Demak angklung-angklung dan gamelan di bawa ke Bali sehingga mengalami kerusakan. Pada saat berada di bali, orang majapahit mengalami kesulitan dalam merangkai gamelan termasuk Angklung, angkung ini berubah nama menjadi rindik yang berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti di tata dengan rapi dengan celah yang sedikit. walaupun angklung reyog berhasil dirangkai dan terciptanya alat musik Rindik, Angklung Reyog tetap di gunakan untuk keperluan keagamaan dan kesenian hingga era kerajan Bali. Tetapi saat ini sudah tidak di teruskan seniman bali karena tidak mencerminkan keraifan lokal Bali.

Fungsi Alat Musik Rindik

Alat musik ini terbuat dari bambu yang bernada selendro dan dimainkan dengan cara dipukul. dan biasanya dimainkan oleh 2-5 orang pemain, di mana 2 orang menabuh Rindik dan sisanya untuk seruling dan gong pulu.
Pada awalnya fungsi alat musik rindik hanya dibuat sebagai alat untuk menghibur para petani di sawah. Rindik juga biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat Joged Bumbung. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.
Alat musik ini biasanya di pergunakan pada upacara perkawinan dan acara pertunjukan yang di kenal dengan nama "joged Bumbung" Tarian joged bumbung ini biasanya di iringi oleh sepuluh atau duapuluh orang yang memainkan gamelan dan termasuk para penabuhnya. Dan Bisa juga di pakai atau di mainkan di hotel-hotel untuk mengibur para tamu yang berkunjung ke Bali.
Bentuk Alat Musik Rindik
Rindik merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang sudah dipotong-potong dan ditata sesuai ukurannya. Jumlah potongan bambu tersebut biasanya terdiri dari 11 buah sampai 13 buah. Setiap buah bambu memiliki ukuran yang berbeda dan nada yang berbeda pula. Semakin besar ukuran bambu maka semakin bernada rendah, seBaliknya semakin kecil bambu tersebut maka semakin tinggi nada yang dihasilkan. Bambu tersebut ditata diatas tempat(pelawah) dimulai dari nada paling rendah di sudut kiri hingga nada paling tinggi di sudut paling kanan.
Nada yang dihasilkan oleh Rindik ini merupakan nada Pentatonic atau Laras slendro, yang berarti hanya memiliki 5 nada utama. Rindik ini dimainkan dengan menggunakan 2 buah alat pemukul yang terbuat dari karet dan memiliki ukuran yang berbeda. Pemukul berukuran besar biasanya digunakan di tangan sebelah kiri begitu juga sebaliknya. Hal ini dikarenakan nada paling kiri lebih rendah sehingga saat dimainkan terdapat sebuah keseimbangan nada.
Cara Memainkan Alat Musik Rindik
Cara memainkan Rindik ini juga membutuhkan keahlian khusus dan feel yang cocok. Rindik biasannya dimainkan dengan dua tangan, dimana fungsi keduanya berbeda. Pada tangan kanan memainkan kotekan sedangkan yang kiri memainkan melodi. Sehingga apabila digabungkan akan menghasilkan suara yang merdu.
Pemain Rindik juga dibedakan menjadi dua macam, yang pertama memainkan pokok lagu/gendhing, dan satunya memainkan sangsih. Apabila keduanya dipadukan maka akan menghasilkan suara yang harmonis.Dalam permainan Rindik juga terdapat teknik pukulan yang dinamakan ngundil, yaitu teknik pukulan yang dilakukan tangan kiri pemain sangsih dimana pukulan tersebut menyelingi pukulan tangan kiri pemain pokok yang sudah divariasikan. Pada pertunjukan joged bumbung, teknik seperti itu sering disebut dengan jegog.
Perkembangan Alat Musik Rindik
Dalam perkembangannya, musik Rindik menjadi salah satu alat musik yang lebih fleksibel dan memiliki fungsi yang lebih banyak. Selain bisa digunakan sebagai pengiring pertunjukan tari, musik Rindik juga bisa ditampilkan sebagai pertunjukan musik seperti pengiring pernikahan dan resepsi. Selain itu juga bisa ditampilkan di acara festival budaya, penyambutan tamu besar dan acara budaya lainnya.
Sekian pengenalan tentang “Rindik Alat Musik Tradisional Dari Bali”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kesenian tradisional di indonesia.

Share:

Pengertian dan Pemakaian Gender Wayang ( Alat Musik Tradisional Bali)


Gender Wayang adalah barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari sepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang dipergunakan.
Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan. Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang.
Pertunjukan wayang kulit yang lengkap biasanya memakai sejumlah tabuh yang berdasarkan fungsinya.

Tabuh-tabuh yang dimaksud antara lain:
  • Pategak (pembukaan) yang merupakan tabuh instrumentalia
  • Tabuh Pamungkah gending-gending untuk mengiringi dalang melakukan puja mantra persembahan, membuka kotak wayang (kropak)
  • Tabuh Patangkilan gending untuk mengiringi adegan pertemuan/persidangan
  • Tabuh angkat-angkatan gending untuk mengiringi adegan sibuk seperti keberangkatan laskar perang dan perjalanan
  • Tabuh rebong gending untuk mengiringi adegan roman
  • Tabuh tangis gending untuk mengiringi suasana sedih
  • Tabuh batel gending untuk mengiringi adegan perang
  • Tabuh panyudamalan  gending khusus untuk mengiringi upacara pangruwatan (dalam Wayang Sapuh Leger)




 
Ibarat musik modern, aliran dari instrumen atau gamelan gender ini adalah jazz. Jadi jika ingin belajar main gender, selain belajar cara menggenggam dan memukul, juga butuh menyerap lirik lagu dengan ekstra. Karena keunikan ini, gender kini banyak dipelajari oleh orang-orang Jepang, Korea, dan USA.

Di Bali, instrumen gender kebanyakan digunakan saat upacara manusa yadnya seperti potong gigi, pawiwahan (perkawinan) dan menek kelih,

Kesenian wayang kulit di Bali juga diiringi dengan menggunakan gamelan gender wayang atau Pewayangan dalam pementasan atau pertunjukannya.

Dikutip dalam Babad Bali, Gamelan Gender Wayang dengan instrumen yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari :
  • Sepasang gender pemade (nada agak besar).
  • Sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang dipergunakan.

Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan.

Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang. 


Share:

Friday, 23 November 2018

Pura Luhur dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

Pura dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

 
    Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini menjadi rancu dengan kata sangguhu yang berarti sang guru atau sang guhung (sebutan ini tidak terlepas dari peranan leluhur bhujangga waisnawa yang menjadi pembimbing atau guru spiritual). demikan juga halnya dengan kata sengguan/sengguhan yang dapat berarti tempatnya i senggu/ i sengguh, dan kata sangguhuan yang artinya karang setra/suci. hal ini tidak terlepas dari tempat tinggal Ida Bhujangga Waisnawa yang selalu berdekatan dengan karang tenget atau karang setra karena sang Bhujangga mempunyai kemampuan sebagai pamahayu jagat, pangalebur lan panglukat sahananing leteh (melebur dang menyucikan segala kekotoran.
Penyebutan kata senggu atau sengguh berasal dari kisah pada jaman Dalem Waturenggong di klungkung. Pada zaman pemerintahan dalem Waturenggong, salah satu purohita beliau dari Bhujangga Waisnawa adalah Ida Bhujangga Guru. Selain sebagai purohita, Ida bhujangga juga berperan sebagai Guru bagi putra-putri sang raja.
Salah satu putri dari dalem waturenggong bernama Dewa Ayu laksmi ketika beranjak dewasa akhirnya jatuh cinta dan menikah dengan Ida Bhujangga Guru. Hal ini mengundang kemarahan dari Dalem Waturenggong, karena pernikahan terjadi diluar sepengetahuan beliau dan apalagi pernikahan tersebut terjadi antara guru dan murid. Kemarahanan dalem ditunjukkan dengan perintah untuk membunuh Ida Bhujangga Guru mengetahui hal tersebut Ida Bhujangga Guru segera "kesah" atau melarikan diri ke daerah pegunungan di tabanan (jatiluwih) tempat tinggal ayahnya yaitu Ida bhujangga Angker atau Ida Resi Canggu. Kepergian Ida Bhujangga Guru dari gelgel (klungkung) masih meninggalkan putra beliau dari istri pertama. Putra beliau bernama Ida Bhujangga Alit Adiharsa.
Suatu ketika, Dalem waturenggong mengadakan upacara yadnya. Beliau mendengar tentang keberadaan Danghyang Nirartha yang baru datang dari jawa. Namun ketika Danghyang Nirartha dipendak atau dijemput, Danghyang Nirartha sedang tidak berada di pasraman, yang ada saat itu adalah I Kelik yang merupakan salah satu pengikut Danghyang Nirartha. I Kelik ini mengaku sebagai Danghyang Nirartha, maka diajaklah dia ke istana. Lalu ketika I kelik yang dikira danghyang nirartha ini melantunkan puja selayaknya pandita, datanglah Danghyang Nirartha dan Ida Bhujangga Alit Adiharsa. mengetahui hal ini membuat I Kelik menjadi ketakutan dan melarikan diri. Dalem menjadi marah karena merasa dibohongi, lalu diperintahkan untuk mengejar dan menangkap I Kelik yang telah membohongi raja. Akan tetapi atas permintaan Danghyang Nirartha, I Kelik akhirnya diampuni oleh dalem. I Kelik kemudian disebut I Sengguh yang artinya yang dikira.
Dalam perkembangan selanjutnya di Istana, oleh karena kemarahan Dalem Waturenggong terhadap Ida Bhujangga Guru, Ida bhujangga Alit Adiharsa menjadi tidak dianggap. Segala nasehat dari Ida bhujangga tidak pernah diperhatikan. Ida Bhujangga Alit merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih untuk ikut kesah dari gelgel. Dengan perginya sang Bhujangga maka dikatakan bahwa Ida Bhujangga telah moksah (padahal kesah yang artinya pergi)lama-kelamaan kondisi negara semakin kacau karena purohita yang bertugas sebagai pemarisudha gumi atau pemahayu jagat sudah tidak ada.
Hal ini membuat Ida dalem menjadi resah. Atas saran Danghyang Nirartha, Dalem akhirnya setuju untuk mengangkat I Kelik sebagai pengganti Ida Bhujangga. I Kelik kemudian dijari oleh Danghyang Nirartha puja-puja weda sebagai dang katrini dan juga semua pusaka dan piagem-piagem sang Bhujangga yang telah kesah diberikan kepada I Kelik. Selanjutnya I Kelik ditapak (ditasbihkan) oleh Danghyang Nirartha sebagai Jero Gede (menurut Lontar Tutur kudalini).
Maka sejak itu peranan Ida Bhujangga diambil alih oleh Jero Gede (senggu). dan berita yang beredar bahwa Ida Bhujangga telah moksah, sudah tidak ada lagi preti sentananya. Padahal sebenarnya Ida bhujangga hanya pergi dari klungkung (pusat kerajaan bali pada waktu itu).

    Sudah jelaslah perbedaan antara Bhujangga waisnawa dan senggu. Bhujangga waisnawa merupakan keturunan dari Ida Resi Makandeya dan sudah ada berabad-abad di bali jauh sebelum kedatangan majapahit ke Bali. Sementara senggu ada sejak pemerintahan Dalem Waturenggong, yaitu zaman setelah kedatangan Majapahit ke Bali. Ida Resi Bhujangga "ditapak" oleh Ida Resi Nabe Bhujangga Waisnawa, sementara Jero Gede "ditapak" oleh Ida Nabe Siwa.
Setelah kejadian di Gelgel tersebut maka peranan bhujangga waisnawa terpinggirkan ditambah lagi setelah Danghyang Nirartha atas restu Dalem Waturenggong, merestrukturisasi kehidupan masyartakat dengan mengeluarkan sistem kasta. dimana yang disebut golongan Brahmana adalah Danghyang Nirartha beserta keturunannya dan Danghyang Astapaka (saudara danghyang nirartha) beserta turunannya. Ksatria adalah Raja dan keluarganya, Arya adalah para patih dan punggawa kerajaan dan diluar ketiga golongan itu adalah Sudra.
Demikianlah cerita tentang Bhujangga Waisnawa dan Senggu, semoga bermanfaat. Tulisan ini bukan bertujuan untuk mendiskreditkan dan mejelekkan golongan tertentu. Melainkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan saja khususnya untuk para semeton bhujangga waisnawa. marilah para semeton bhujangga waisnawa tetap teguh memegang sasana ke bhujanggaan, yaitu untuk selalu arif dan bijaksana namun rendah hati. Bu artinya Bumi/pertiwi, Ja artinya air suci, Ngga artinya nagasari, sarining sekar anyuksemaning tirta jati utama maka perihaning wong kabeh (lontar kerta bhujangga). Bhujangga adalah air atau tirta suci yang dapat membersihkan bumi dan segala isinya atau dengan kata lain adalah sebagai pengayom.


Pura Luhur Bhujangga Waisnawa 





Pura Luhur Bhujangga Waisnawa merupakan tempat suci sebagai media pemujaan Bhatara Kawitan (Leluhur) dari Wangsa Bhujangga Waisnawa. Pura Luhur Bhujangga Waisnawa ini di samping sebagai Pura Kawitan sangat diyakini di masa lampau sebagai suatu pasraman. Di tempat ini dipuja roh suci leluhur atau Dewa Pitara dari Wangsa Bhujangga Waisnawa dan tentunya juga sebagai media pemujaan pada Tuhan dalam berbagai manifestasinya.
Menurut catatan sejarah, dinyatakan bangunan suci ini didirikan oleh Ida Bagus Angker yang setelah dwijati bergelar Ida Bhagawan Resi Canggu. Ida Bagus Angker ini juga sebagai pendiri Pura Petali yang berada di areal lebih di bawah dari Pura Luhur Bhujangga Waisnawa. Ida Bagus Angker mendirikan Pura Luhur Bhujanga Waisnawa dan Pura Petali di Desa Jatiluwih ini pada zaman pemerintahan di Bali dipimpin oleh Dalem Watu Renggong dengan ibu kotanya di Klungkung. Dalem Watu Renggong memerintah di Bali dari tahun 1460-1550 Masehi.
Pura Luhur Bujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. Tempat ini dapat dijadikan salah satu tujuan wisata anda saat berkunjung dan berwisata di Pulau Bali. Arsitektur menawan serta keindahan ukiran-ukiran yang terukir di bangunan pura akan menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi anda yang berkunjung ke objek wisata pura ini. Letak dari objek wisata ini juga berdekatan dengan beberapa objek wisata, diantaranya yaitu objek wisata Jatiluwih, Pura Luhur Petali, Air Panas Belulang dan Bali Butterfly Park. Di pura luhur bhujangga ini juga terdapat 2 Beji, yaitu Beji Kauh dan Beji Kangin



Beji Kauh 

Beji Kauh berada di sebelah barat saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa.
Para pemedek yang tangkil biasanya melakukan penglukatan di beji kauh dan beji kangin. Beji Kauh terdapat sumber mata air yang mengalir dan berasal dari gunung batukaru.


Beji Kangin

Beji Kangin berada di sebelah timur saat anda memasuki areal Pura Kawitan Bhujangga Waisnawa
Beji kangin terdapat kolam yang diatasnya ditumbuhi lumut dan kapu-kapu.




















Share:

Translate

Subscribe Channel

Followers

Pengunjung Blog

Flag Counter

Total Pageviews

Hosting Unlimited Indonesia